Artikel (2)

Keywords: perum bulog

Berita Bulog di Koran Media Indonesia


Bulog belum Ada Anggaran untuk Beli Gabah Berkualitas


Minggu, 20 Februari 2011 02:45 WIB      Penulis : Rommy K Karindon


MI/Jhoni Kristian/rj


JAKARTA--MICOM:Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) tentang Rafaksi Gabah dianggap tidak mencakup ketentuan membeli gabah yang berkualitas di atas standar. Anggapan itu merespons pernyataan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimueso yang menyatakan belum ada anggaran untuk membeli gabah yang berkualitas di atas standar.Penilaian itu dikemukakan Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, Sabtu (19/2). 


Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan, Permentan Rafaksi Gabah telah dirilis pada 11 Februari 2011 di mana Perum Bulog juga diminta membeli gabah yang berkualitas di atas standar dengan harga yang lebih tinggi daripada Harga Pembelian Pemerintah (HPP). 


"Bulog itu alat. Pernyataan Mentan bahwa Bulog harus beli gabah di atas standar HPP kan lisan, bukan tertulis. Jadi wajar Dirut Bulog bilang belum ada anggaran (untuk membeli gabah yang berkualitas di atas standar dengan harga di atas HPP)," kata Winarno. 


Winarno juga menyayangkan penyerapan gabah per 17 Februari 2011 yang hanya 20.000 ton. "Dua hari lalu, baru 20.000 ton gabah yang diserap. Padahal di kontrak, 42.000 ton. Saya jadi ragu target bisa dicapai. Padahal, target sampai Juni (2010) 2,8 juta ton. Target batas atas sampai Desember (2010) 3,5 juta ton, batas bawah 2,5 juta ton." (*/OL-8)


 


DPR Minta Bulog Percepat Penyerapan Gabah


Minggu, 20 Februari 2011 07:55 WIB      


JAKARTA--MICOM: Anggota DPR minta Bulog saat ini fokus pada target pengadaan beras 3,5 juta dengan bergerak cepat melakukan penyerapan gabah. 


"Bila terlambat, Bulog akan berhadapan dengan spekulan beras. Untuk itu, Bulog harus jemput bola, tidak hanya gabah panen petani, tapi juga gabah atau beras yang dimiliki unit-unit penggilingan padi skala kecil," kata Anggota Komisi IV DPR Rofi Munawar, di Jakarta, Sabtu (19/2). 


Anggota DPR RI dari dapil Jawa Timur itu juga mengatakan, kontrak-kontrak pembelian beras dengan asosiasi atau kelompok tani seharusnya sudah dimulai dan terus mengalami percepatan. 


Jika penyerapan segeradilakukan, menurut dia, pencapaian 2,8 juta ton beras hingga Juni 2011 bukan sesuatu yang mustahil, katanya. 


Rofi menegaskan orientasi penyerapan domestik harus di kedepankan Bulog dari pada terus menerus berbicara tentang impor beras. 


Payung hukum yang selama ini menjadi alasan Bulog tidak dapat melakukan serapan memang perlu secara serius mendapatkan perhatian. 


"Sesungguhnya harus diciptakan fleksibilitas, khususnya pada ceiling-floor price ketika Bulog melakukan pembelian beras dan gabah melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP)," katanya. 


Jika Inpres No 7 Tahun 2009 tentang kebijakan perberasan perlu direvisi, maka tindakan tersebut harus segera diambil. 


Menyangkut pernyataan Direktur Bulog, Soetarto Alimoeso, mengenai ramalan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian ASbahwa Indonesia di tahun 2011 akan mengimpor 1,75 juta ton beras atau naik 800 ribu ton dari tahun sebelumnya, Rofi menilai ramalan ini syarat kepentingan. 


Menurut dia, perlu diketahui bahwa Amerika Serikat adalah negara eksporter beras ke tiga terbesar setelah Thailand dan Vietnam. Tahun 2011, menurut Food and Agriculture Organization (FAO), Amerika Serikat di perkirakan akan melakukan ekspor beras melebihi 3 juta ton. 


Pada kesempatan itu, Soetarto juga menyatakan agar Indonesia masuk dalam kondisi aman dan tidak perlu melakukan impor beras di butuhkan peningkatan produksi di atas 6 persen. Asumsi angka peningkatan ini terlalu tinggi, kata Rofi. 


Bila melihat kenaikan produksi beras pada tahun 2010 capaian peningkatan hanya sebesar 2,46 persen atau 65,8 juta ton gabah kering giling. 


Untuk tahun 2011, menurut dia, peningkatan produksi beras idealnya cukup sebesar 4,5 persen atau 68,8 juta ton gabah kering giling atau setara dengan 40,6 juta ton beras (rendemen 59 persen). Jika dikurangi dengan angka 36 juta ton sebagai angka konsumsi beras rata-rata secara nasional, kata Rofi, surplus bisa mencapai 4,6 juta ton, artinya sudah melebihi standar cadangan beras Bulog yang biasanya di patok di angka 1,5 juta ton. (Ant/OL-3) 


 


Bulog Minta Tambahan Anggaran Rp1 Triliun


Selasa, 22 Februari 2011 18:58 WIB      Penulis : Asni Harismi


JAKARTA--MICOM: Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan UK Anggoro menyatakan Bulog meminta tambahan anggaran sebesar Rp 1 triliun agar bisa menyerap beras kelas premium. 


Dana ini sendiri berada di luar dana public service obligation (PSO) Bulog Rp15,3 triliun untuk pengadaan 3,5 juta ton beras di tahun 2011. 


"Ya, Bulog meminta tambahan Rp1 triliun untuk tambahan anggaran pengadaan beras di luar kualitas berdasarkan ketetapan harga di tabel rafaksi," kata Anggoro di Jakarta, Selasa (22/2). 


Hal ini, imbuhnya, diperuntukkan untuk menaikkan harga pembelian Bulog Rp300 per kilogram. Meskipun demikian, Anggoro tidak bisa memastikan apakah dana tersebut sudah dikucurkan ke Bulog atau belum. 


Hingga Selasa (22/2) sore, Direktur Bulog Sutarto Alimoeso pun belum bisa dikonfirmasi atas hal ini. Kepada wartawan, Sutarto hanya menyatakan pihaknya masih membutuhkan lebih dari sekedar Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) agar Bulog bisa menyerap beras maupun gabah petani secara optimal. 


"Ini (Permentan) lebih ditujukan untuk penyerapan yang di bawah kualitas, kalau beli yang di atas kualitas harganya lebih mahal, jadi harus ada keputusan pemerintah lagi (berupa Inpres)," kata Dirut Bulog Sutarto Alimoeso ketika dihubungi wartawan, Selasa (22/2). (HA/OL-9)


 


Bulog Solo Pesimistis Serap 90 Ribu Ton Gabah 


Selasa, 13 Juli 2010 14:20 WIB      Penulis : Widjayadi


MI/AGUSTANTO BUDIPRAYOGO /al


SOLO--MI: Bulog Sub Divre III Solo dihantui gagal meraih target penyerapan gabah petani tahun ini sebesar 90 ribu ton setara beras, seiring makin seretnya pembelian selama musim panen gadu yang hampir selesai dan masih diganggu serbuan wereng coklat. Dalam keadaan normal, serapan gabah per hari bisa mencapai 1000 ton, namun musim panen gadu ini hanya bisa 200 ton, bahkan dua hari terakhir ini tinggal 150 ton. 


"Bukannya kami terus pesimis. Tapi jika melihat perkembangan musim panen gadu yang segera berakhir, sedang serapan gabah per hari hanya dapat 150 ton, bisa disebut mengkhawatirkan. Kendati sampai 9 Juli serapan sudah sampai 65 ribu ton setara beras atau 72 persen, perjalanan gabah perlu diwaspadai," tukas Kepala Bulog subdivre III Solo, Tri Fajaryanto kepada Media Indonesia, Selasa (13/7). 


Menurut dia, kegelisahan tentang ketahanan pangan di Jawa Tengah yang diganggu wereng coklat ini juga diungkapkan Gubernur Jateng, ketika bertemu seluruh kepala Bulog Subdivre se-Jateng, organisasi petani dan para kepala Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota di Demak sepekan silam. 


Jeritan petani yang mengalami keterpurukan, dan juga turunnya harga akibat volumen panen yang menurun, membuat Gubernur Bibit Waluyo telah memerintahkan kepada Kepala Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Gayatri Indah Cahyani untuk berkirim surat kepada Presiden SBY. Surat kepada presiden itu berisi permintaan dispensasi harga beras petani, agar petani tertolong dengan harga panen yang terus merosot. 


Bulog lanjut Tri Fajaryanto, di tengah seretnya penyerapan gabah petani memang masih terus menerapkan kualitas gabah sesuai Inpres 8/2000, sehingga tidak bisa sertamerta gabah petani bisa masuk gudang Bulog, dengan pola konversi sekali pun. 


"Ya Bulog harus sesuai Inpres 8/2000, agar ketika keluar dari gudang tidak memunculkan permasalahan baru seperti yang sudah-sudah," tandas mantan Kepala Bulog Divisi Regional VI Bondowoso itu.(WJ/X-11) 


 


Bulog Gagal Serap 20.000 Ton Beras Petani


Senin, 29 November 2010 10:24 WIB      


MI/Usman Iskandar/sa


JAMBI--MICOM: Bulog Jambi gagal menyerap 20.000 ton beras petani lokal yang ditargetkan selama 2010, guna kebutuhan cadangan dan bencana alam, kata Kabid Pelayanan Publik Perum Bulog Jambi, Damin Hartono Roestam di Jambi, Senin (29/11). 


Ia mengatakan, tiap tahun pihaknya terus berupaya meningkatkan pembelian beras petani produksi lokal, namun tidak teralisasi sesuai harapan. Pada 2009 dari 8.000 ton pembelian beras petani yang ditargetkan, terealisasi sebanyak 5.000 ton dan untuk 2010 ditingkatkan sebanyak 20.000 ton, namun hingga November 2010 hanya terserap kurang dari 1.000 ton. 


Damin menyebutkan, tidak tercapainya target pembelian beras petani tersebut, karena daya serap beras di pasaran cukup tinggi, atau di atas harga pokok pemerintah (HPP) sebesar Rp5.060/kg diterima di gudang Bulog untuk beras ukuran medium. 


Harga beras ukuran medium yang dikonsumsi golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah di pasaran kini berkisar Rp5.500 hingga Rp5.600/kg, yang berarti tingkat pembelian di pasaran lebih tinggi dibanding harga beli Bulog. 


Tingginya daya serap pasar serta harga beli di pasaran di atas harga Beli Bulog hal itu akan memberi keuntungan bagi petani dan kondisi seperti itu yang diharapkan pemerintah, sepanjang lonjakan harga masih terjangkau pembeli. 


Bulog sebagai lembaga yang berfungsi menjaga stabilitas harga, akan menyerap atau membeli beras petani berapa pun jumlahnya jika harga beli pasar lebih rendah dari HPP, dan petani akan menderita kerugian bila harga anjlok. 


Pengalaman sebelumnya, harga beras akan anjlog bila produksi melimpah dan beras di pasaran cukup banyak menyebabkan daya serap beras petani menurun, dan untuk membantu petani supaya tidak merugi, Bulog akan melakukan pembelian. 


Bulog Jambi kini masih mengandalkan beras dari luar daerah, terutama dari Jawa Timur untuk Raskin dan 9.000 ton beras cadangan untuk tiga bulan ke depan, kata Damin. (Ant/sa/OL-04)


 


Harga Beras Turun, Bulog Klaim Keberhasilan OP


Kamis, 17 Februari 2011 22:45 WIB      Penulis : Asni Harismi 


MI/Liliek Dharmawan/rj


JAKARTA--MICOM:Penurunan harga beras diklaim oleh Perum Bulog sebagai dampak dari keberhasilan program operasi pasar dan gelontoran beras raskin. Menurut Dirut Bulog Sutarto Alimoeso, kenaikan harga beras pada Januari 2011 hanya 1,78% atau jauh lebih rendah dibanding Januari 2010 yang mencapai 5,02%. 


"Pada Januari 2011, kenaikan harga beras hanya 1,78% atau lebih rendah bila dibandingkan Januari 2010 yang mencapai 5,02%. Ini adalah dampak dari gelontoran beras OP dan raskin," kata Sutarto dalam paparannya di rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI di DPR, Kamis (17/2). 


Hingga kini, beras OP yang telah digelontorkan Bulog mencapai 73.436 ribu ton. Dari jumlah tersebut 34.946 ton di antaranya diambil dari cadangan beras pemerintah (CBP) alias termasuk menggelontorkan beras impor dari Vietnam maupun Thailand yang berkelas premium ke konsumen. 


Sementara untuk beras raskin, realisasinya hingga 16 Februari telah mencapai 328.929 ton. Jumlah ini disalurkan ke 17,4 juta rumah tangga miskin dengan pagu total sebesar 3.147.841 ton di 2011. 


Jumlah penyaluran beras OP dan raskin yang besar ini, imbuh Sutarto, membuat kebutuhan masyarakat akan beras terpenuhi sehingga pasar jenuh yang kemudian membuat harga turun drastis di awal tahun ini. (HA/OL-9)


 


Bulog Diminta Setop Impor Beras hingga September


Kamis, 03 Maret 2011 16:18 WIB      Penulis : Asni Harismi


JAKARTA--MICOM: Kementerian Pertanian meminta Perum Bulog tidak lagi memasukkan beras impor ke Indonesia selama panen raya atau mulai Maret hingga Juni 2011. Hal ini untuk mengantisipasi jatuhnya harga saat panen raya. 


"Mulai maret ini kita harap impor beras oleh Bulog tidak ada lagi. Kalau pun ada, ditahan dulu sebab ada panen raya," kata Menteri Pertanian Suswono di sela-sela penandatanganan MoU sensus ternak di kantor Badan Pusat Statistik, Jakarta, Kamis (3/3) 


Ketentuan ini, tambah Suswono, sudah sesuai dengan Surat Keputusan Menperidag tentang ketentuan impor beras. Di situ dikatakan bahwa impor beras dilarang selama satu bulan sebelum panen raya, selama panen raya, dan dua bulan setelah panen. 


Berdasarkan hitungan Kementan, panen raya akan jatuh pada Maret-Juni sehingga impor harus dihentikan pada Februari hingga Agustus. 


"Makanya, paling tidak Juni sudah berakhir masa panen raya, juga Februari lalu Bulog sudah menghentikan arus beras impor," kata Suswono. 


Jika Bulog sudah terlanjur melakukan deal impor, beras-beras itu harus ditahan di negara asal ekspor sebagai cadangan beras Bulog yang disimpan di luar negeri. 


"Jika sudah terlanjur jadi kepemilikan Bulog, harus ditahan di negara asal impor untuk bisa dijadikan cadangan Bulog," tambahnya. (HA/OL-9)


 


Bulog Terima Tambahan Dana Rp1 Triliun


Sabtu, 05 Maret 2011 20:26 WIB      Penulis : Asni Harismi


JAKARTA--MICOM: Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan permintaan Bulog untuk mendapat tambahan dana Rp1 triliun telah disetujui oleh Kementerian Keuangan. Dana di luar anggaran public service obligation (PSO) ini akan dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011. 


"Kemenkeu sudah setuju penambahan dana Rp1 triliun untuk Bulog. Saat ini masih ditetapkan dalam DIPA (daftar isian pelaksanaan anggaran) berdasarkan APBN 2011," kata Sutarto ketika dihubungi Media Indonesia, Sabtu (5/3). 


Dana itu akan digunakan untuk memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Juga, dana ini akan digunakan untuk memperbanyak serapan dalam negeri terkait target penyerapan 3,5 juta ton beras pada 2011. 


"Tapi, untuk kualitas beras yang boleh diserap Bulog dari anggaran ini terserah pemerintah yang memutuskan," imbuh Sutarto. 


Sebelumnya, anggaran PSO Bulog di 2011 berjumlah Rp15,3 triliun yang setengahnya telah cair bulan lalu. Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Pertanian Nomor 5/2011, Bulog bisa membeli beras petani kualitas premium hingga di bawah standar medium. (OL-5)


 


Bulog Dapat Dana Tambahan Rp1 Triliun


Senin, 07 Maret 2011 00:00 WIB      


PERUM Bulog akan mendapat tambahan dana Rp1 triliun guna memperkuat cadangan beras pemerintah, sekaligus memperbanyak serapan beras dalam negeri. 


Cadangan beras pemerintah (CBP) minimal yang harus tersedia di gudang Bulog pada tahun ini adalah 1,5 juta-2 juta ton. Adapun target serapan beras dalam negeri 3,5 juta ton. 


Menurut Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso, tambahan dana tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Namun, dia belum mendapatkan kepastian kapan dana itu cair. 


Demikian pula soal kualitas beras yang boleh diserap dengan anggaran tersebut, Sutarto belum dapat memastikan. "Dana Rp1 triliun itu untuk memperkuat CBP. Tetapi untuk kualitas beras yang boleh diserap Bulog dari anggaran ini, terserah pemerintah yang memutuskan," imbuh Sutarto. 


Hal itu terkait dengan keluarnya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 05/2011 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah dan Beras di Luar Kualitas. Permentan memungkinkan Bulog membeli gabah di atas kualitas yang ditentukan dengan harga lebih tinggi daripada harga pembelian pemerintah (HPP). 


Saat ini, HPP diatur dengan Inpres No 7/2009 tentang Kebijakan Perberasan, yang mematok harga pembelian beras Rp5.060/kg, gabah kering panen (GKP) di petani Rp2.640/kg, dan GKP di penggilingan Rp2.685/kg. 


Karena itu, Sutarto berkeras, dengan keluarnya permentan, tidak berarti Bulog bisa menyerap beras di atas kualitas medium. "Kalau Bulog harus membeli di atas kualitas, harus ada inpresnya. Permentan itu hanya daftar harga dan tidak ada ketentuan pencairan uangnya bagi Bulog." 


Dengan demikian, perlu kepastian apakah tambahan anggaran Bulog Rp1 triliun terkait dengan keluarnya permentan. Sebelumnya, anggaran public service obligation Bulog di 2011 adalah Rp15,3 triliun. 


Terlambat 


Dalam menanggapi tambahan dana bagi Bulog, pengamat pertanian Khudori mengatakan hal tersebut terlambat dilakukan. Seharusnya pencairan dana dilakukan sebelum panen raya, akhir Februari lalu. 


"Lebih bagus jika bisa dilakukan Januari. Kalau terlambat begini, berasnya sudah diserap spekulan terlebih dahulu," ujar Khudori. 


Karena itu, Khudori menegaskan, DPR dan pemerintah harusnya bisa mengubah mekanisme pencairan dana agar bisa dilakukan lebih cepat. 


Khudori juga mengkritisi Inpres No 7/2009 yang masih menggunakan HPP Rp5.060/kg. Menurutnya, harga itu sudah tidak sesuai. "Di lapangan, walaupun sudah panen raya, harga beras bergerak di atas HPP. Ini harus disesuaikan dengan keadaan sekarang." 


Permentan No 5/2011, tidak cukup memberikan kepastian kepada Bulog dalam menyerap beras bila harganya di atas HPP. "Permentan belum jelas mengatur soal siapa yang menanggung kerugian Bulog dalam penyerapan beras. Seharusnya diterbitkan inpres baru." (*/X-10)


 


Pencairan Dana Tambahan untuk Bulog Terlambat


Senin, 07 Maret 2011 00:56 WIB      Penulis : Marchelo


JAKARTA--MICOM: Pencairan dana tambahan kepada Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk memperkuat cadangan beras pemerintah dianggap terlambat dilakukan. Seharusnya pencairan dana dilakukan sebelum panen raya yang berlangsung pada akhir Februari. 


Hal tersebut disampaikan pengamat pertanian Khudori, Minggu (6/3). "Pencairan dana ini memang aneh dibandingkan dengan negara lain. Harusnya pendanaan ini cairnya lebih luwes," katanya. 


Menurut Khudori, pencairan dana kepada Bulog seharusnya dilakukan sebelum panen raya yang berlangsung pada akhir bulan Februari. Ia menyebutkan paling lambat pencairan dana dilakukan pada awal Februari. 


Keterlambatan pencairan dana akan menyulitkan Bulog dalam menyerap beras dari petani karena beras tersebut sudah diserap terlebih dahulu oleh para spekulan. Jika sudah begitu, penyerapan beras yang dilakukan Bulog menjadi tidak optimal. 


"Lebih bagus jika bisa dilakukan Januari. Kalau terlambat begini, berasnya sudah diserap spekulan terlebih dahulu. Kinerja Bulog nanti malah dianggap tidak perform," ujar Khudori. 


Selain itu dengan pencairan dana yang terlambat, Bulog akan direpotkan karena harus menggunakan kredit perbankan dengan bunga yang komersial. Dengan begitu penyerapan beras tidak bisa dilakukan dengan optimal. 


Khudori menegaskan, DPR dan pemerintah harusnya bisa mengubah mekanisme pencairan dana agar bisa dilakukan lebih cepat. "Bagaimana pembiayaan bisa dikirimkan lebih cepat agar tidak ada persoalan dalam penyerapan beras," tegasnya. 


Khudori menilai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 5 Tahun 2011 tidak memberikan kepastian kepada Bulog dalam menyerap beras bila harganya di atas HPP. Maka kembali lagi penyerapan beras yang dilakukan Bulog tidak optimal karena menderita kerugian akibat harga beras yang di atas HPP tersebut. 


Sebelumnya Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso bersikeras bahwa Permentan 5/2011 tidak bisa mengganti rugi biaya Bulog jika membeli di atas HPP. "Kalau Bulog harus membeli di atas kualitas harus ada inpresnya. Permentan itu hanya daftar harga dan tidak ada ketentuan pencairan uangnya bagi Bulog," tandasnya. (*/OL-04) 


 


Aktivis Pilar Penegak Bangsa Demo di Gudang Bulog


Selasa, 08 Maret 2011 11:55 WIB      


SUMENEP--MICOM: Puluhan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat "Pilar Penegak Bangsa" Sumenep, Madura, Jawa Timur, demontrasi di depan Gudang Bulog setempat di Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget, Selasa (8/3). 


Mereka yang kecewa dengan kualitas beras yang merupakan program nasional beras bagi warga miskin (raskin) itu, sempat menabur beras tersebut di depan Gudang Bulog. 


"Beras yang dibagikan kepada warga miskin itu sangat tidak layak. Warnanya kuning dan agak kehitam-hitaman. Beras tersebut layak dibuang dibanding diserahkan kepada warga miskin," kata Koordinator LSM Pilar Penegak Bangsa, Edi Junaedi melalui alat pengeras suara. 


Ia menyatakan, penerima manfaat raskin adalah warga miskin yang sangat membutuhkan beras untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. "Mereka memang butuh beras. Namun, beras yang dibagikan itu harus berkualitas, bukan beras yang jelek dan tidak layak dimakan," ujarnya. 


Selain kualitasnya jelek, kata dia, jumlah beras yang diserahkan kepada penerima manfaat raskin itu juga tidak sesuai dengan ketentuan. "Masing-masing penerima manfaat raskin seharusnya menerima 15 kilogram yang dibungkus dalam sak. Namun, berasnya ternyata tidak sampai 15 kilogram alias susut," ucapnya, menegaskan. (Ant/vg/OL-13)


 


Harga Beli Beras Bulog masih Dikaji


Selasa, 08 Maret 2011 15:23 WIB      Penulis : Dwi Tupani 


ANTARA/M Risyal Hidayat/ip


JAKARTA--MICOM:Kementrian Keuangan belum menyepakati harga pembelian beras oleh pemerintah kepada Perum Bulog (HPB) untuk bisa pencairan anggaran Rp1 triliun yang akan digunakan untuk meningkatkan cadangan beras pemerintah (CBP). 


Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Pengeluaran Negara Kiagus Ahmad Badaruddin menjelaskan bahwa saat ini HPB sedang dibahas pada level teknis. 


"Berapa tingkat harga yang paling dapat disepakati oleh Kemenkeu dan Bulog. Sebab bagi Kemenkeu dana Rp1 triliun tersebut diharapkan dapat membeli CBP sebanyak-banyaknya," katanya saat dihubungi di Jakarta, Selasa (8/3). 


Ia menjelaskan bahwa harga HPB yang saat ini Rp6.450 per kilogram diatur dalam Melainkan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan. Harga ini tidak diatur didalam Inpres 7 no 2009. 


Menurut Badar, pembahasan mengenai HPB ini sebenarnya bukanlah hambatan yang berarti. Sebab jika sudah ada kesepakatan harga, Bulog hanya tinggal surat tanggung jawab mutlak bahwa CBP sudah ada di gudang Bulog untuk mencairkan anggaran tersebut. Dirinya optimisitis pada bulan Maret ini dana tersebut sudah bisa dicairkan. 


"Prosesnya tetap sama yaitu pengajuan surat kuasa mutlak ke Ditjen Anggaran, agar DIPA-nya bisa keluar di Ditjen Perbendaharaan. Lalu Bulog bisa mencairkan anggaran di kantor-kantor perbendaharaan di daerah," tuturnya. 


Badar mengatakan, peninjauan HPB ini karena Kemenkeu melihat adanya efisiensi berupa berkurangnya biaya bunga bagi Bulog. Hal ini sebagai akibat diterapkannya PMK 125/2010 tentang Pemerintah membayar 50% dari pagu anggaran beras bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 


"Sehingga dari pagu Bulog Rp15 triliun, akan keluar Rp7,5 triliun dimuka untuk memberikan penghematan hingga Rp500 miliar," katanya. (Tup/X-12)


 


Bulog Akui Target Serapan 3,5 Juta Ton Beras Sulit Tercapai


Kamis, 10 Maret 2011 21:04 WIB      Penulis : Asni Harismi 


ANTARA/Rosa Panggabean/ip


JAKARTA--MICOM:Perum Bulog mengakui bahwa target serapan beras 3,5 juta ton yang ditetapkan oleh pemerintah sulit terealisasi. Bulog hanya mampu mengadakan beras dalam negeri hingga 2,35 juta ton atau 67% dari target pengadaan pada 2011. 


Apabila target produksi 2011 dapat mencapai 70,1 juta ton pun, kemampuan pengadaan dalam negeri Bulog normalnya hanya 2,35 juta ton," kata Staf Ahli Bulog Muhammad Ismed dalam diskusi terbatas produksi padi dan perubahan iklim, di Jakarta, Kamis (10/3). 


Angka itu didapat dengan asumsi penyerapan Bulog dalam kondisi normal, yaitu sebanyak 5,9% dari total produksi nasional. Angka itu telah bertahan dalam enam tahun terakhir sehingga dianggap sebagai angka konstan penyerapan Bulog. 


Jumlah target realistis pengadaan bisa diperparah dengan berbagai faktor. Angka ramalan I (Aram I) yang dirilis Badan Pusat Statistik pada awal Maret lalu hanya menunjukkan peningkatan produksi hingga 1,35%. Artinya, produksi padi di 2011 diperkirakan hanya mencapai 67,3 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 42,23 juta ton beras. 


"Panen tidak terlalu besar sehingga itu berdampak pada target pengadaan dalam negeri yang sulit memeroleh kuantum yang ditetapkan yaitu 3,5 juta ton," kata Ismed. 


Selain karena produksi yang tidak terlalu bagus akibat cuaca ekstrem dan faktor lainnya, ketidakpastian revisi Instruksi Presiden Nomor 7/2009 membuat spekulasi harga di kalangan petani simpang siur. Beberapa pihak masih beranggapan harga pembelian pemerintah (HPP) akan naik. Padahal, HPP sudah dipastikan masih mengikuti aturan lama, yaitu untuk Gabah Kering Panen Rp2.640, GKG Rp3.300, dan beras Rp5.060. 


"Kami sudah menyosialisasikan kepada mereka bahwa HPP tidak naik, namun mereka tetap ingin menunggu inpres yang baru dan sekarang memilih untuk menahan dulu stok berasnya," tandas Ismed. (HA/OL-8)


 


Kementan: Penyerapan Bulog bukan Persoalan Produksi


Jumat, 11 Maret 2011 16:24 WIB      Penulis : Asni Harismi


JAKARTA--MICOM: Kementrian Pertanian menolak dikatakan sebagai sumber masalah jika Bulog tidak bisa memenuhi target penyerapan beras/gabah tahun ini. 


Sebelumnya, Bulog mengaku sulit merealisasikan target serapan 3,5 juta ton beras tahun ini karena penigkatan produksi yang tidak signifikan. 


"Sedikitnya penyerapan Bulog bukan persoalan produksi, tapi karena Bulog yang belum maksimal memainkan fungsi komersialnya," tukas Menteri Pertanian Suswono di sela-sela Konferensi Tingkat Menteri tentang Keanekaragaman Hayati, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali, Jumat (11/3). 


Pernyataan Suswono ini didasarkan atas pengalaman pada 2010. Pada waktu itu, serapan Bulog sangat rendah dari target 3,2 juta ton hanya terealisasi 1,89 juta ton serapan. 


Menurut Suswono, hal ini lebih banyak disebabkan oleh tindakan Bulog untuk tidak menyerap beras petani di bawah standar ketika memasuki panen raya Maret-Juni sehingga menyebabkan Bulog tersandung temuan hukum jika masih membeli tidak sesuai standar yang telah ditentukan. 


Sementara ketika kualitas sudah sesuai standar, harga sudah tinggi karena beras yang ada di masyarakat juga tidak lagi melimpah. 


Bulog juga mengutarakan bahwa petani masih banyak yang menahan beras karena belum keluarnya ketetapan harga pembelian pemerintah (HPP) yang baru dalam revisi Inpres 7/2009. 


Padahal, pemerintah sudah menegaskan bahwa HPP tidak akan naik tahun ini. Menanggapi hal ini, lagi-lagi Suswono meminta Bulog untuk mengoptimalkan peran komersialnya. 


"Saya terus meminta Bulog untuk menjalankan fungsi komersialnya karena kalau mengandalkan HPP dan tabel rafaksi bisa jadi serapannya rendah sekali," kata Suswono. 


Mentan juga menandaskan supaya Bulog jangan mencari-cari alasan untuk tidak menyerap beras petani besar-besaran tahun ini untuk menghindari impor beras lagi. 


Tahun ini, Bulog sendiri sudah memenuhi kuota impor yang ditetapkan pemerintah sebanyak 1,5 juta ton. Terlebih, pemerintah mengaku sudah menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan Bulog dalam upaya pengadaan beras dalam negeri ini sendiri. (HA/OL-9)


 


Ribuan Ton Beras Impor Menumpuk di Gudang Bulog Dumai


Sabtu, 12 Maret 2011 13:22 WIB      


DUMAI--MICOM: 6.200 ton beras impor Vietnam yang rencananya dialokasikan ke sejumlah wilayah di Riau, saat ini menumpuk di gudang Bulog. 


Selain untuk memenuhi kebutuhan di Riau, kelebihan beras yang masuk Maret ini (2011), nantinya juga untuk menutupi kebutuhan di Provinsi Kepulauan Riau, kata Kepala Divre Bulog Dumai Marwansyah, Sabtu (12/3). 


Stok beras impor ini nantinya untuk beras miskin dan cadangan beras pemerintah (CBP) yang diperuntukkan guna mengantisipasi bencana dan operasi pasar (OP). Dari sejumlah kebutuhan sesuai dengan peruntukannya, menurut Marwan, yang paling mendominasi adalah beras untuk masyarakat miskin, yakni mencapai kebutuhan di atas 60.000 ton per tahun. 


Jika dibagi per bulan, kebutuhan raskin mencapai 5.000 ton. Sementara untuk kebutuhan lainnya seperti operasi pasar hanya sekitar beberapa persen saja, urainya. Menurut Marwan, saat ini telah terjadi penumpukan beras impor asal Vietnam di gudang Bolog Dumai, yang diperkirakan akan mencukupi kebutuhan masyarakat di Riau hingga Juni mendatang. "Penumpukan ini biasa terjadi, namun belum dirasa membuat gudang kelebihan kapasitas," tuturnya. 


Ia menjelaskan, kapasitas gudang Bulog Dumai mencapai 14.000 ton. Dengan kapasitas ini diharapkan mampu menampung seluruh beras impor setiap bulannya. "Namun terkadang pembongkaran beras yang seharusnya dilakukan di Pelabuhan Dumai, terpaksa dialihkan ke pelabuhan Sumatra Utara. Hal ini mengingat kapasitas sandar kapal di pelabuhan memang terbatas," katanya. 


Kendati demikian, menurut Marwansyah, pengalihan labuh sandar kapal pengangkut beras impor tersebut tidak mengganggu kebutuhan masyarakat di Riau yang rata-rata per bulan mengkonsumsi 5.500 ton. "Selama stok di gudang Dumai masih aman, bila terjadi keterlambatan penyaluran dari Medan, maka tidak begitu mengganggu kebutuhan di Riau dan sekitarnya," jelas Marwan. (Ant/OL-04) 


 


Bulog Bengkulu Salurkan 3.633 Ton Raskin


Sabtu, 19 Maret 2011 11:55 WIB      


BENGKULU--MICOM: Bulog Divisi Regional Bengkulu dalam tiga bulan terakhir menyalurkan 3.633 ton beras bagi warga miskin atau ribuan rumah tangga sasaran di sembilan kabupaten/kota di provinsi ini. 


"Dampak pembagian raskin itu berhasil menurunkan harga beras di tingkat pedagang pengecer rata-rata Rp500 per kilogram, terutama beras kualitas medium dan lokal," kata Kepala Divisi Regional Bulog Bengkulu Kasnun Bahri, di Bengkulu, Sabtu (19/3). 


Ia menyebutkan target raskin selama 2011 di Provinsi Bengkulu seluruhnya 21.708 ton dengan rumah tangga sasaran (RTS) sebanyak 120.602 di sepuluh kabupaten/kota. Namun, sudah beberapa tahun ini hanya kabupaten Mukomuko yang tidak mengambil jatah raskinnya karena alasan lain, sehingga bupatinya tetap akan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat daerah itu dana APBD setempat. 


Penyaluran raskin tahun 2011 di wilayah Bengkulu dipercepat karena mengantisipasi tingginya harga beras di pasaran, mestinya raskin itu dibagikan bulan April 2011, namun dipercepat mulai Februari 2011. 


Penyaluran raskin ke depan diupayakan jatah dua bulan dibagi sekali, mengingat minimnya biaya transportasi ke tingkat kecamatan disamping masyarakat dapat lebih aman karena stok beras lebih banyak, ujarnya. Humas Divre Bulog Bengkulu David Susanto mengatakan jatah raskin tahun 2011 di Provinsi Bengkulu sama dengan tahun sebelumnya karena jumlah keluarga miskin tetap bertahan. 


"Kami kesulitan untuk memenuhi target pembelian beras lokal tahun 2011 sebanyak 2.000 ton karena beras produksi petani di Bengkulu hanya cukup makan petaninya saja," ujarnya. Untuk memenuhi pembelain beras lokal itu rencananya akan mencari di provinsi Sumatra selatan dan Lampung sama dnegna tahun sebelumnya juga di beli dari Belitang, Sumsel. 


Stok beras di gudang Bulog Bengkulu saat ini tercatat 6.800 ton dan pekan depan masuk lagi dari Lampung sebanyak 3.500 ton, untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Bengkulu 1,7 juta jiwa. Mengenai raskin dibagikan saat ini setiap keluarga mendapatkan jatah sebanyak 15 kilogram dan harga tebus pada warga miskin tetap Rp1.600 per kilogram. 


Pagu raskin setiap kabupaten/kota tetap mengacu pada 2010 pagu Kabupaten Bengkulu Utara 3,637,660 ton untuk 21,393 RTS dan Bengkulu Tengah sebanyak 2,174,640 ton (12,792). Alokasi di Kota Bengkulu 1,109,250 (10,359). Seluma 2,352,970 (13.841), Bengkulu Selatan 1,286,050 (7,565) dan Kaur 2,071,450 (12,185). 


Rejang Lebong sebanyak 3,357,500 dari 19,750 RTS, Kepahiang 1,359,830 (7,999) dan Lebong 1,391,960 (8,188). Kecuali pagu untuk Kabupaten Mukomuko sebanyak 1,109,250 untuk 6,525 KK tidak mengambil jatah raskin sejak dua tahun terakhir. 


Jatah untuk Mukomuko tidak bisa dialihkan pada kabupaten lain, karena menurut aturan pusat tidak bolah dialihkan, tetapi diharapkan pada 2011 kabupaten tersebut dapat mengambil jatah raskin itu karena masih ada warganya yang membutuhkan. (Ant/vg/OL-13)


 


Bulog Jamin Pengadaan Beras Lebih Baik


Sabtu, 19 Maret 2011 22:58 WIB     Penulis : Asni Harismi 


ANTARA/Fachrozi Amri/sa


JAKARTA--MICOM:Perum Bulog menjamin pengadaan beras dalam negeri tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu. Direktur Utama Bulog Sutarto ALimoeso menyatakan hal tersebut terlihat dari total penyerapan beras/gabah yang sudah mencapai nyaris 200 ribu ton pada Maret ini. 


"Februari lalu, penyerapan Bulog mencapai sekitar 76.000 atau 10 kali lipat dibanding 2010. Ini berarti pengadaan beras nasional tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu," ujar Sutarto seusai Diskusi Antisipasi Krisis Pangan dan Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional di Jakarta, Jumat (18/3) sore. 


Belum lagi hingga saat ini, total penyerapan beras yang masuk sudah mencapai 195 ribu ton dari total kontrak 225.636 ton. Jumlah ini sendiri sudah mendekati total penyerapan yang sudah masih ke gudang Bulog pada akhir Maret 2010 silam yang mencapai 196.286 ton. 


Atas dasar tersebut, Sutarto menargetkan hingga akhir Maret 2011 mendatang, penyerapan beras/gabah petani bisa menyamai atau bahkan melebihi catatan 2008 yang mencapai 353.051 ton beras. "Kami harap Maret ini penyerapan bisa melebihi 2009, tapi susah karena waktu itu produksinya di atas 5% terus," imbuh Sutarto. 


Pada 2007, produksi mencapai 4,96%, 2008 sebesar 5,54%, dan 2009 pertumbuhan produksi 6,75%. Tahun 2010 lalu, pertumbuhan produksi hanya 2,46% dan angka ramalan I tahun ini hanya 1,35% sehingga diprediksi mempersulit penyerapan karena Bulog meminta target pertumbuhan produksi minimal 6%. (HA/OL-9)


 


Sat, 26 Mar 2011 @05:27

Berita Bulog

Bulog Beli 3,5 Juta Ton Beras Petani Tahun Ini


Sabtu, 12 Februari 2011 15:36 WIB      


BANDUNG--MICOM: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menkokesra) Hatta Rajasa menyatakan tahun ini Perum Bulog harus membeli beras dari petani sampai 3,5 juta ton. 


"Untuk pembebasan bea masuk impor beras hanya sampai 31 Maret mendatang. Jika musim panen sudah tidak berlaku dan 2011 ini Bulog harus membeli beras dari petani hingga 3,5 juta ton. Nah, sebagian cadangannya dipenuhi lewat impor tadi," kata Hatta Rajasa di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (12/2). 


Ia menjelaskan, kebijakan mengenai keputusan untuk mengimpor beras akan dilakukan kalau cadangan beras di Perum Bulog tidak mencukupi. "Intinya itu, impor beras hanya akan dilakukan saat cadangan beras Bulog tidak mencukupi," ujar Hatta usai memberikan kuliah umum di Aula Barat Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jalan Ganesha Bandung. 


Ia mengatakan, saat ini pemerintah sedang menimbang untuk menaikkan cadangan beras nasional karena situasi iklim yang sudah lagi tidak menentu. "Situasi iklim yang ekstrim dan dapat berubah pada suatu saat ini bisa berakibat pada produktivitas dan produksi gabah kita terganggu," katanya. 


Menurutnya, apabila masih dinilai kurang, pihaknya akan menaikkan cadangan beras. "Untuk tahun ini cadangan beras kita mencapai 1,5 juta ton dan ke depannya mungkin kita harus naikkan cadangan itu sesuai dengan keuangan kita," katanya.. 


Sementara itu, dalam kuliah umumnya yang bertajuk Peluang dan Tantangan Ekonomi dan Geopolitik di hadapan ratusan mahasiswa ITB, Hatta menyatakan kampus ITB harus memberikan kontribusi besar dalam pencapaian dari program Visi Indonesia 2025 yang rencananya akan diluncurkan pada April mendatang. (Ant/OL-01) 


 

Sat, 26 Mar 2011 @03:47

nasi kucing maknyuuus

Cek Nama Domain ?

Welcome di Nasi Kucing KU
image

adjie perumda ungaran

6281 325 452 325


Ungaran City
Kategori
Artikel Terbaru
Arsip

Komentar Terbaru